New Post

Rss

"“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)."


Senin, 28 April 2014
Beban Seorang Pemimpin

Beban Seorang Pemimpin


           Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Kepemimpinan—baik dalam level pribadi, masyarakat ataupun negara—adalah amanah. Sesuai dengan sabda Rasul SAW di atas, siapa saja yang memegang amanah kepemimpinan ini pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat nanti.
Hakikat kepemimpinan tercermin dalam sabda Rasulullah SAW berikut, “Sayyid al-qawm khadimuhum (Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka).” (HR Abu Nu‘aim).
*****
Tahun ini adalah tahun pemilu di tanah air. Melalui pemilu, banyak orang bernafsu—bahkan dengan segala cara—untuk menjadi pemimpin, baik sebagai wakil rakyat ataupun penguasa. Fenomena ini bertolak belakang dengan generasi salafush-shalih pada masa lalu, yang umumnya takut dengan amanah kepemimpinan (kekuasaan). Pasalnya, berbeda dengan generasi hari ini, generasi Muslim pada masa lalu amat paham tentang betapa beratnya amanah kekuasaan. Banyak nash yang menegaskan demikian.
Rasulullah SAW, misalnya, bersabda, Tidak seorang hamba pun yang diserahi oleh Allah untuk memelihara dan mengurusi kemaslahatan rakyat, lalu dia tidak melingkupi rakyat dengan nasihat, kecuali ia tidak akan mencium bau surga.” (HR al-Bukhari).

Rasulullah SAW juga bersabda,Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan tersebut, kecuali  Allah mengharamkan surga untuk dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Terkait dengan hadits ini, Imam Fudhail bin Iyadh menuturkan, “Hadits ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah SWT untuk  mengurus urusan  kaum Muslim, baik urusan agama maupun dunia, kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap suatu urusan yang telah diserahkan kepadanya maka ia telah terjatuh pada dosa besar dan akan dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari unsur-unsur yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan mengabaikan hudûd (hukum-hukum Allah).  Penelantaran itu juga bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka.  Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah mengkhianati umat.” (Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim).
Selain itu, jika pemimpin (penguasa/pejabat/wakil rakyat) menzalimi rakyat dan tidak menyayangi mereka, pemimpin seperti inilah seburuk-buruknya pemimpin.  Rasul SAW  bersabda, “Sesungguhnya seburuk-buruk pemimpin adalah al-Hathamah (mereka yang menzalimi rakyatnya dan tidak menyayangi mereka). (HR Muslim).
Karena itu, Islam sangat mendorong agar para pemimpin/penguasa selalu bersikap adil. Sayangnya, pemimpin adil tidak mungkin lahir dari rahim sistem demokrasi sekuler yang memang kufur. Sistem zalim ini hanya bisa menghasilkan para pemimpin zalim, tidak amanah dan jauh dari sifat adil. Pemimpin yang adil hanya mungkin lahir dari rahim sistem yang juga adil. Itulah sistem Islam yang diterapkan dalam institusi pemerintahan Islam (Khilafah).
Sejak Rasulullah SAW diutus, tidak ada masyarakat yang mampu melahirkan para penguasa yang amanah dan adil kecuali dalam masyarakat yang menerapkan sistem Islam. Kita mengenal Khulafaur Rasyidin yang terkenal dalam kearifan, keberanian dan ketegasannya dalam membela Islam dan kaum Muslim. Mereka adalah negarawan-negarawan ulung yang sangat dicintai oleh rakyatnya dan ditakuti oleh lawan-lawannya.   Mereka juga termasyhur sebagai pemimpin yang memiliki budi pekerti yang agung dan luhur Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok penguasa yang terkenal sabar dan lembut.  Namun, beliau juga terkenal sebagai pemimpin yang berani dan tegas.  Tatkala sebagian kaum Muslim menolak kewajiban zakat, beliau segera memerintahkan kaum Muslim untuk memerangi mereka. Meskipun pendapatnya sempat disanggah oleh Umar bin al-Khaththab, beliau tetap bergeming dengan pendapatnya. Stabilitas dan kewibawaan Negara Islam harus dipertahankan meskipun harus mengambil risiko perang. Khalifah Umar bin al-Khaththab sendiri terkenal sebagai penguasa yang tegas dan sangat disiplin. Beliau tidak segan-segan merampas harta para pejabatnya yang ditengarai berasal dari jalan yang tidak benar (Lihat: Târîkh al-Islâm, II/388; dan Tahdzîb at-Tahdzîb, XII/267).
Tidakkah kita merindukan kembali kehadiran sistem Islam di tengah-tengah kita yang bisa melahirkan para pemimpin yang adil dan amanah?
Wama tawfiqi illa bilLah. [] abi


Minggu, 27 April 2014
7 WANITA YANG NGGAK LAYAK JADI CALON ISTRIMU

7 WANITA YANG NGGAK LAYAK JADI CALON ISTRIMU


7 WANITA YANG NGGAK LAYAK JADI CALON ISTRIMU
1. Wanita yang membuat syahwatmu bergejolak dengan pakaian seksinya. (Emang mau dapet istri yang diniikmatin semua lelaki?)
2. Wanita yang gonta-ganti pacar.
(Emangnya mau dapet istri bekas dinikmatin? hihi..Setia dengan satu pacar udah dosa. apalagi ini!)
3. Wanita pencuri.
(Yang bukan hanya mencuri perhatianmu tapi juga mencuri waktu produktif, energi, bahkan menguras habis dompetmu)
4. Wanita matre.
(Yang menikahimu hanya karena kekayaanmu bukan karena landasan ibadah)
5. Wanita perokok dan pemabuk.
(Emang mau anakmu dibesarkan dengan asap rokok dan minuman haram yang dikonsumsi ibunya)
6. Wanita diktator, Yang memaksamu mewujudkan semua keinginannya.
(Emang mau bertahun-tahun hidup tertindas? Lelaki itu imam, mesti bisa mengarahkan dan membimbing.)
7. Wanita yang sibuk telepon dan sms mesra denganmu.
(tapi jarang berkomunkasi mesra dengan Rabbnya. Wanita yang ingin selalu terlihat cantik di hadapanmu, namun tak memperindah pribadinya di hadapan Tuhannya)
“Semoga para lelaki shaleh dapat memhami betul mana yang baik untuk dijadikan pendamping hidup, bukan hanya di dunia, bahkan kekal cintanya hngga ke syurga”. Aamiin..
SUBHANALLAH
"Semoga ALLAH bimbing kita agar senantiasa menjadi hamba-Nya yang tidak meremehkan waktu shalat, dan waktu2 yang sudah ALLAH berikan untuk kita, terhindar dari maksiat dan perzinaan, dekat dengan ibadah kepada ALLAH SWT. aamiin"
Sampaikan dakwah ini kepada sahabat, dan teman-teman facebook anda. Semoga pahala ini terus tersebar hingga membukakan pintu hati setiap orang yang membacanya
Aamiinkan doa ini saudaraku.
Allahumma ya ALLAH tanamkan di hati kami perasaan selalu rindu kepada-Mu, ingatkanlah selalu kami tentang dahsyatnya hari akhirat-Mu agar hamba tidak tertipu dengan kesenangan dunia sesaat ini, ya ALLAH, ya Tuhan kami, Penguasa hati kami, tetapkanlah hati kami dalam taqwa dan istiqomah agar tetap dijalan-Mu sampai akhir hayat nanti... Aamiin ya Rabbal'alamin
(Cantumkan jika ada doa khusus, agar kami para jamaah bisa mengaminkannya)
Silahkan Klik Like dan Bagikan di halamanmu agar kamu dan teman-temanmu senantiasa istiqomah dan bisa meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT.
Ya ALLAH...
✔ Muliakanlah orang yang membaca tausiah ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan tausiah ini.
Aamiin ya Rabbal'alamin

By : Yusuf Mansur
RUMAH TERAKHIR SANG MILIARDER...

RUMAH TERAKHIR SANG MILIARDER...

Sahabat..
Apakah kau lihat gumpalan tanah itu..?
Ditempat itulah Nasheer Al Kharafy dimakamkan.
Nasheer Al Kharafy adalah miliarder asal Kuwait.
Depositonya mencapai $14 Miliar Dolar Amerika. Tapi tunggu dulu.. itu yang tersimpan di bank-bank Kuwait. Belum terhitung kekayaannya yang tersimpan diluar negeri.
Dia memiliki 33 kilang minyak dan puluhan hotel yang tersebar diseluruh dunia. Separoh saham perusahaan telekomunikasi Zain juga miliknya, ditambah 20 tower yang tersebar di Malaysia, Dubay, Prancis, Itali dan London.
Namun tak satupun dari kekayaannya itu dia bawa mati. Jasadnya kini terbaring dibawah gumpalan tanah berpasir yang tak istimewa, tak ada bunga rampai apalagi karangan bunga.
Gambaran ini seperti menegaskan pada kita, bahwa setinggi apapun kedudukan kita, sebanyak apapun harta yang kita miliki, tetap saja ada unsur tanah yang tidak istimewa di dalam diri kita. Darinya kita berasal dan padanya kita kembali.
Gambaran ini juga mengingatkan kita bahwa kematian merupakan kenyataan hidup yang tak bisa dielakkan. Dia selalu datang tepat waktu, lalu secepat kilat merubah segalanya, ia memaksa penghuni istana yang megah agar pergi meninggalkan istana kemudian tinggal di dalam sunyi senyapnya kuburan.
Sahabat....
Berapapun usia kita, pasti kita akan tiba pada hari itu, pada sebuah kepastian hidup yang tak pernah kita citakan. Maka disisa waktu yang ada, persiapkanlah rumah terbaik diakhirat sana. Bangunlah rumah itu sejak kini dengan amal ibadah terbaik.
Selagi ada waktu..
Bergegaslah..
Karena mati tak menunggu taubatmu...
===========================
Indonesia Milik Allah l www.twitter.com/INAMilikAllah
10 Perkara yang Sia-Sia

10 Perkara yang Sia-Sia


Firman Allah Ta’ala
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)
yang tiada berguna. (QS Al Mu’minun : 3)

Diantara perkara yang sia-sia, Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah menyebutkan,

1. Ilmu yang tidak diamalkan,
2. Amalan yang tidak bertolak dari ikhlash dan berqudwah pada sunnah Rosuul صلى الله عليه وسلم ,
3. Dan harta yang tidak diinfaqkan, dimana pemiliknya tidak menikmatinya di dunia terlebih lagi membelanjakannya untuk kepentingan akheratnya,
4. Dan hati yang kosong dari cinta dan rindu terhadap Allooh سبحانه وتعالى,
5. Dan badan yang tidak difunngsikan untuk tho’ah dan berkhidmah pada Allooh سبحانه وتعالى,
6. Dan cinta yang tidak diikat oleh ridho Alloh سبحانه وتعالى dan melakukan ketaatan pada perintah-perintah-Nya,
7. Dan waktu yang tidak dihabiskan untuk mengejar kealpaan, atau bergegas dalam kebajikan dan pendekatan diri pada Alloh سبحانه وتعالى,
8. Dan pikiran yang terbang melayang dalam hal-hal yang tidak bermanfaat,
9. Dan berkhidmah pada sesuatu yang tidak mendekatkan diri pada Alloh سبحانه وتعالى dan tidak mendatangkan kebajikan dunia,
10. Dan takut dan harap pada sesuatu yang keberadaannya justru di tangan Alloh سبحانه وتعالى, menjadi tawanan dalam genggamanNya, tidak memiliki manfaat maupun madhorot (bahaya) bagi dirinya sendiri atau memiliki kematian, kehidupan dan kebangkitan.


Oleh : https://www.facebook.com/hasby.harokan
fb : hasby harokan
Sabtu, 26 April 2014
MAU LUNAS HUTANG????

MAU LUNAS HUTANG????


Mau Lunas Hutang......?
Allah Maha Kaya.....
mintalah pada Allah.....ini kisahnya......

Dalam shahihnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Zubeir radhiyallahu anhu, katanya, “Di hari Perang Jamal, Zubeir sempat memanggilku. Setelah aku berdiri di sampingnya, ia berkata kepadaku, “Hai putraku, yang akan terbunuh hari ini hanyalah orang zalim atau yang terzalimi. Dan kurasa aku akan terbunuh hari ini sebagai pihak yang terzalimi. Akan tetapi beban pikiran terberatku di dunia ini ialah utangku. Apakah menurutmu utang kita akan menyisakan harta kita walau sedikit?”

“Wahai putraku, jual-lah aset yang kita miliki untuk menutup utang-utangku,” kata Zubeir kepada Abdullah.
Zubeir lalu berwasiat kepada anaknya agar sepersembilan hartanya yang tersisa diperuntukkan bagi anak-anak Abdullah, atau cucu-cucunya. Waktu itu ada dua anak Abdullah seusia dengan anak-anak Zubeir. Yakni Khubaib dan Abbad. Zubeir sendiri waktu itu meninggalkan sembilan anak laki-laki dan sembilan anak perempuan.

Kata Abdaullah, Zubeir berpesan kepadanya. “Hai puteraku, jika engkau tak sanggup melakukan sesuatu demi melunasi utang ini, minta tolonglah kepada tuanku,” kata Zubeir.

“Demi Allah, aku tidak paham apa maksudnya. Maka aku bertanya kepadanya,” kata Abdullah bin Zubeir. “Wahai Ayah, siapakah tuanmu itu?”

“Allah,” jawab Zubeir.

“Sungguh demi Allah, setiap kali aku terhimpit musibah dalam melunasi utang tersebut, aku selalu berkata, “Wahai tuannya Zubeir, lunasilah utang-utangnya”… dan Allah pun melunasinya, kata Abdullah.

Tak lama berselang, Zubeir radhiyallahu anhu terbunuh. Ia tak meninggalkan sekeping dinar maupun dirham. Peninggalannya hanyalah
Ø  Dua petak tanah, yang salah satunya ada di Ghabah (Madinah),
Ø  11 unit rumah di Madinah,
Ø  dua unit rumah di Basrah, satu unit di Kufah, dan satu lagi di Mesir.

Sedangkan utang-utangnya timbul karena Zubeir sering dititipi uang oleh orang-orang.
“Anggap saja ini sebagai utang, karena aku takut uang ini hilang,” kata Zubeir.

Zubeir tidak pernah menjabat sebagai gubernur maupun pengumpul zakat atau yang lainnya. Ia hanya mendapat bagian dari perangnya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar bin Khattab atau Utsman bin Affan radhiyallaahu ‘anhum.
“Maka kuhitung total utang yang ditanggungnya, dan jumlahnya mencapai 2,2 juta dirham!”

Hakim bin Hizam pernah menemui Abdullah bin Zubeir dan bertanya, “Wahai putera saudaraku, berapa utang yang ditanggung saudaraku?”

Ibnu Zubeir merahasiakannya, dan hanya mengatakan “seratus ribu.”

Hakim berkomentar, “Demi Allah, harta kalian takkan cukup untuk melunasinya menurutku.”

“Lantas bagaimana menurutmu jika utang tadi berjumlah 2,2 juta?!” tanya Ibnu Zubeir.

“Kalian takkan sanggup melunasinya. Dan jika kalian memang tidak sanggup, maka minta tolonglah kepadaku,” jawab Hakim.

Abdullah lantas mengumumkan, “Siapa yang pernah mengutangi Zubeir, silakan menemui kami di Ghabah.” Maka datanglah Abdullah bin Ja’far yang dahulu pernah mengutangi Zubeir sebesar 400 ribu dirham.

Ibnu Ja’far berkata kepada Ibnu Zubeir, “Kalau kau setuju, utang itu untuk kalian saja.”

“Tidak”, jawab Ibnu Zubeir.

“Kalau begitu, biarlah ia utang yang paling akhir dilunasi,” kata Ibnu Ja’far.

“Jangan begitu,” jawab Ibnu Zubeir.

“Kalau begitu, berikan aku sekapling tanah dari yang kalian miliki,” pinta Ibnu Ja’far.

“Baiklah. Kau boleh mengambil kapling dari sini hingga sana,” kata Ibnu Zubeir.

Ibnu Ja’far lantas menjual bagiannya dan mendapat pelunasan atas utangnya. Sedangkan tanah tersebut masih tersisa 4,5 kapling. Ibnu Zubeir lantas menghadap Mu’awiyah yang kala itu sedang bermajelis dengan ‘Amru bin Utsman, Mundzir bin Zubeir, dan Ibnu Zam’ah.

Mu’awiyah bertanya, “Berapa harga yang kau berikan untuk tanah Ghabah?”

“Seratus ribu per kapling,” jawab Ibnu Zubeir.

“Berapa kapling yang tersisa?” tanya Mu’awiyah.

“Empat setengah kapling,” jawab Ibnu Zubeir.

‘Amru bin Utsman berkata, “Aku membeli satu kapling seharga seratus ribu.” Sedangkan Mundzir bin Zubeir dan Ibnu Zam’ah juga mengatakan yang sama.

Mu’awiyah bertanya, “Berapa kapling yang tersisa?”

“Satu setengah kapling” jawab Ibnu Zubeir.

“Kubeli seharga 150 ribu,” kata Mu’awiyah.
Sebelumnya, Abdullah bin Ja’far menjual kaplingnya kepada Mu’awiyah seharga 600 ribu dirham. Dan setelah Ibnu Zubeir selesai melunasi utang ayahnya. Datanglah anak-anak Zubeir kepadanya untuk minta jatah warisan.

Tapi kata Ibnu Zubeir, “Tidak, demi Allah. Aku takkan membaginya kepada kalian sampai kuumumkan selama empat tahun di musim haji, bahwa siapa saja yang pernah mengutangi Zubeir hendaklah mendatangi kami agar kami lunasi.” Maka Ibnu Zubeir pun mengumumkannya selama empat tahun.

Setelah berlalu empat tahun, barulah Ibnu Zubeir membagi sisa warisannya. Ketika itu, Zubeir meninggalkan empat istri, dan setelah dikurangi sepertiganya, masing-masing istrinya mendapatkan 1,2 juta. Dan setelah ditotal, nilai total harta peninggalannya mencapai 50,2 juta! (HR. Bukhari No. 3129)

Oleh Ustadz Hasby.Harokan
https://www.facebook.com/hasby.harokan

Copyright © 2014 Inspirasi Dakwah All Right Reserved