"“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)."


Senin, 07 April 2014

Klasifikasi Guru dan Peranannya Dalam Pendidikan Khilafah Abbasiyah

Dari zaman dulu hingga sekarang guru memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun peradaban di suatu negara. Maka sangat layak penghormatan yang tinggi diberikan kepada mereka. Guru dalam pendidikan islam merupakan  organ penting untuk mentransfer ilmu pengetahuan islam sekaligus membina kaum muslimin agar menjadi pribadi yang tangguh, memiliki syakhsiyyah (kepribadian) islam serta  siap membela agama Allah.
Pada abad pertengahan yang merupakan salah satu titik puncak zaman keemasan islam yaitu era khilafah Abbasiyah ada beberapa klasifikasi guru mulai dari tipe guru, pakaian, perserikatan, dan sebagainya. Berikut yang kami dapatkan :
Pakaian guru
Selama kekhilafahan Abbasiyah para guru mengikuti gaya Persia, mengenakan tutup kepala Persia, Celana lebar (laki-laki), rok besar (perempuan), memakai rompi dan jaket ala Persia. Semuanya ditutup dengan jubbah atau aba manterl luar dan taylasandi atas surban
Tipe Guru
Ada enam tipe guru yaitu : muallim, mu’addib, mudarris, syaikh, ustadz, Imam. Ini belum termasuk guru pribadi dan para muaiyid atau asisten guru. Muallim biasanya julukan bagi guru sekolah dasar. Mu’addib secara harfiah adalah orang/guru yang beradab, ini adalah julukan untuk guru di sekolah menengah. Mudarris adalah satu julukan untuk seorang mur’id atau pembantu. Ia sama dengan asistem professor dan membantu mahasiswa menjelaskan hal-hal yang dibahas dalam perkuliahan. Syaikh adalah julukan khusus yang menggambarkan keunggulan akademik serta Ilmu Islam. Sedangkan Imam adalah julukan tertinggi (sudah selevel mujtahid)
Perserikatan guru
Pada zaman tersebut juga terdapat perserikatan guru (sejenis dengan sekarang di Indonesia bernama PGRI). Serikat tersebut jumlahnya cukup banyak mengikuti pengklasifikasian jenis keilmuan, keliman dan kapasitas mengajar guru. Perserikatan ini memiliki pengaruh besar dalam dunia profesi guru.
Bimbingan
Setiap guru adalah pembimbing . Pada zaman tersebut Imam Al Ghazali dikenal sebagai pembimbing yang baik dan professional terutama dalam hal bimbingan di pendidikan tinggi. Peserta didik dilatih dalam suatu profesi dengan bakat dan kecenderungan yang dimilikinya dan tidak diperkenankan hanya mengikuti profesi orang tua maupun cita-cita orang tua saja. Inilah peran guru untuk membaca bakat, kemampuan dan membimbing serta mengarahkan secara tepat
Kemudahan Akademik
Terdapat banyak sekali kemudahan akses untuk mendapatkan referensi ilmu pengetahuan. Peserta didik diberikan kebebasan untuk bertanya dan berdiskusi dengan guru bahkan diperbolehkan untuk mengkritisi pendapat guru jika memang ditemukan kesalahan (tentunya dengan adab yang baik). Perpustakaan tersedia di banyak tempat, mulai dari perpustakaan umum hingga perpustakaan di kesultanan (perpustakaan Negara). Bahkan tak sedikit mereka yang mendapatkan bantuan finansial untuk melakukan pendalaman akademik mereka
Hikmah
Tentunya bukan hanya sekedar materi yang dikejar sebagai seorang guru tapi kesadaran untuk membina dan mengarahkan ummat Islam sehingga mencetak para cendekiawan, ilmuwan, mujtahid dan mujahid yang meninggikan kalimatuLLah.

Referensi :
Nakosteen, M. History of Islamic Origins of Western Education.1964. Colorado :
         University of Colorado Press


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Inspirasi Dakwah All Right Reserved