"“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)."


Jumat, 28 Maret 2014

Memanfaatkan Fasilitas Demokrasi?

Oleh Ali Afan

www.inspirasidakwah.com - Sering pernyataan miring yang ditujukan pernyataan miring kepada penentang demokrasi, “Anda itu tidak konsisten! Anda itu mengharamkan demokrasi tetapi anda menikmati produk-produk demokrasi!”. Lalu dijelaskan mengenai apa maksud dengan “menikmati produk-produk demokrasi” yaitu seperti menikmati fasilitas umum seperti rumah sakit pemerintah, jalan beraspal, puskesmas, pasar dan sejenisnya. Dikatakan demikian dikarenakan fasilitas umum tersebut dijalankan dan dibangun oleh pemerintah yang menerapkan demokrasi. Weleh-weleh…Ini lagi, katanya tidak mungkin bisa berdiri fasilitas umum kalau tidak disetujui anggarannya oleh para anggota dewan yang dipilih berdasarkan dan mengamalkan sistem demokrasi. Sampai pada kesimpulannya, “ Jika Anda mengharamkan demokrasi, maka seharusnya Anda juga mengharamkan diri untuk menikmati fasilitas-fasilitas umum tersebut! Anda tidak boleh berobat ke puskesmas dan rumah sakit pemerintah, tidak boleh belanja, dan tidak boleh berjalan diaspal”. Wuih sadis banget ya???.
    Benarkah berbagai fasilitas tersebut merupakan produk demokrasi dan tidak mungkin terwujud tanpa campur tangan demokrasi? Faktanya tidak begitu tuh. Buktinya, dinegara yang tidak menerapkan demokrasi juga bisa dijumpai berbagai fasilitas umum tersebut. Bukankan semua fasilitas umuj seperti jalan beraspal, pasar ada dimanapun di dunia ini? Bahkan penjajahpun bisa saja membangun jalan beraspal didaerah jajahannya. Tidak percaya? Contoh, Jalan pantura (pantai-utara-jawa) yang juga dikenal sebagai jalan Deandeles. Jadi, dengan atau tanpa demokrasi fasilitas tersebut tetap ada alias keberadaan fasilita umum bukan merupakan jasa demokrasi.

“Lho, bukankah berbagai fasilitas umum yang ada saat ini bisa dibangun berkat persetujuan pemerintah yang menerapkan demokrasi yang anda haramkan itu? Tanpanya, fasilitas umum tersebut tidak akan ada! Kalau Anda mengharamkan demokrasi, haramkan juga dong segala sesuatu yang dihasilkan oleh pihak yang menerapkan demokrasi!”

Benar fasilitas umum akan dapat dilaksanakan atas persetujuan pemerintah, apapun sistem yang digunakan untuk memerintah. Dalam negara sosialis-komunis, fasilitas umu hanya mungkin dibangun jika disetujui penguasa yang menerapkan sistem sosialis-komunis. Demikian pula dengan negara demokatis. Tetapi, jika misalkan sosialisme-komunisme haram , maka kita haram pula berjalan dijalan diatas jalan yang dibangun penguasa yang menerapkan sosialisme-komunisme? Atau haram berjual-beli dipasar yang dibangun dan dipelihara oleh kapitalis? Jawabnya tentu saja tidak.
Mari kita berkaca pada apa yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Kekasih Allah. Saat beliau masih berada di Mekkah, beliau hidup disebuah negeri yang dipimpin oleh para musyrikin. Secara tegas beliau menolak secara tegas beliau menyatakan kebencian terhadap sistem pemerintahan yang tegak di mekkah, memusuhi kesyirikan yang berada di mekkah, tak jaran juga keluar kata-kata pedas tentang kesyirikan dan sistem pemerintahan yang dijalankan disana. Tetapi apakah rasulullah pernag mengharamkan para sahabat untuk memanfaatkan fasilitas umum yang ada disana? Meskipun tidak dipungkiri fasilitas umum tersebut dibangun oleh penguasa yang menerapkan kesyirikan. Jawabannya tidak pernah.
Rasulullah tetap berjalan diatas jalan-jalan yang dibangun penguasa Mekkah. Bahkan beliaupun tetap berjual beli di pasar. Lalu apakah kita akan mengatakan Rasulullah tidak konsisten? Silahkan saja jika anda berani mengatakan demikian, saya sih tidak berani. Bahkan saya akan mengikuti Rasulullah, menghaamkan mengikuti sistem selain islam tanpa mengharamkan diri dalam memanfaatkan fasilitas umum yang ada.
            Lalu seperti apa yang dikatakan “menikmati produk demokrasi” saya kutipkan pernyataan seorang Profesor Muda, Prof. Fahmi Amhar “ Menikmati demokrasi yang sesungguhnya itu adalah ketika seseorang menikmati berbagai kemaksiatan yang dilindungu UU produk demokrasi, misalkan menikmati riba ala perbankan , menikmati judi ala pasar modal, menikmati miras berijin, menikmati aurat dilayar TV, menikmati penjarahan sistemik SDA…dsb.” Itulah yang disebut sebagai menikmati produk demokrasi. Wallahua’lam     
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Inspirasi Dakwah All Right Reserved