Memanfaatkan Fasilitas Demokrasi?
Oleh Ali Afan
Manajer
jualanggrek.com
Benarkah
berbagai fasilitas tersebut merupakan produk demokrasi dan tidak mungkin
terwujud tanpa campur tangan demokrasi? Faktanya tidak begitu tuh. Buktinya,
dinegara yang tidak menerapkan demokrasi juga bisa dijumpai berbagai fasilitas
umum tersebut. Bukankan semua fasilitas umuj seperti jalan beraspal, pasar ada
dimanapun di dunia ini? Bahkan penjajahpun bisa saja membangun jalan beraspal
didaerah jajahannya. Tidak percaya? Contoh, Jalan pantura (pantai-utara-jawa) yang
juga dikenal sebagai jalan Deandeles. Jadi, dengan atau tanpa demokrasi
fasilitas tersebut tetap ada alias keberadaan fasilita umum bukan merupakan
jasa demokrasi.
“Lho,
bukankah berbagai fasilitas umum yang ada saat ini bisa dibangun berkat
persetujuan pemerintah yang menerapkan demokrasi yang anda haramkan itu?
Tanpanya, fasilitas umum tersebut tidak akan ada! Kalau Anda mengharamkan
demokrasi, haramkan juga dong segala sesuatu yang dihasilkan oleh pihak yang
menerapkan demokrasi!”
Benar fasilitas
umum akan dapat dilaksanakan atas persetujuan pemerintah, apapun sistem yang
digunakan untuk memerintah. Dalam negara sosialis-komunis, fasilitas umu hanya
mungkin dibangun jika disetujui penguasa yang menerapkan sistem sosialis-komunis.
Demikian pula dengan negara demokatis. Tetapi, jika misalkan
sosialisme-komunisme haram , maka kita haram pula berjalan dijalan diatas jalan
yang dibangun penguasa yang menerapkan sosialisme-komunisme? Atau haram
berjual-beli dipasar yang dibangun dan dipelihara oleh kapitalis? Jawabnya
tentu saja tidak.
Mari kita
berkaca pada apa yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Kekasih Allah. Saat
beliau masih berada di Mekkah, beliau hidup disebuah negeri yang dipimpin oleh
para musyrikin. Secara tegas beliau menolak secara tegas beliau menyatakan
kebencian terhadap sistem pemerintahan yang tegak di mekkah, memusuhi
kesyirikan yang berada di mekkah, tak jaran juga keluar kata-kata pedas tentang
kesyirikan dan sistem pemerintahan yang dijalankan disana. Tetapi apakah
rasulullah pernag mengharamkan para sahabat untuk memanfaatkan fasilitas umum
yang ada disana? Meskipun tidak dipungkiri fasilitas umum tersebut dibangun
oleh penguasa yang menerapkan kesyirikan. Jawabannya tidak pernah.
Rasulullah tetap berjalan diatas
jalan-jalan yang dibangun penguasa Mekkah. Bahkan beliaupun tetap berjual beli
di pasar. Lalu apakah kita akan mengatakan Rasulullah tidak konsisten? Silahkan
saja jika anda berani mengatakan demikian, saya sih tidak berani. Bahkan saya
akan mengikuti Rasulullah, menghaamkan mengikuti sistem selain islam tanpa
mengharamkan diri dalam memanfaatkan fasilitas umum yang ada.
Lalu
seperti apa yang dikatakan “menikmati produk demokrasi” saya kutipkan
pernyataan seorang Profesor Muda, Prof. Fahmi Amhar “ Menikmati demokrasi
yang sesungguhnya itu adalah ketika seseorang menikmati berbagai kemaksiatan
yang dilindungu UU produk demokrasi, misalkan menikmati riba ala perbankan ,
menikmati judi ala pasar modal, menikmati miras berijin, menikmati aurat
dilayar TV, menikmati penjarahan sistemik SDA…dsb.” Itulah yang disebut
sebagai menikmati produk demokrasi. Wallahua’lam
