Pemimpin Amanah Bawa Berkah (Part 2)
www.inspirasidakwah.com - Seorang pemimpin tentu akan memimpin berdasarkan ideologi, pemahaman dan pengetahuan yang dimilikinya. Hal demikian akan rentan sekali terhadap rakyat yang memiliki pemikiran dan keinginan yang berbeda maka akan muncul yang dinamakan konflik. Maka yang terjadi ada dua kemungkinan pemberontakan dari rakyat atau pemaksaan sistem dari penguasa. Maka ideologi rakyat dan penguasa harus disamakan agar negara mendapatkan dukungan dan kontrol dari rakyat secara penuh, negarapun menjadi kuat.
Dengan
mayoritas penduduk muslim tentunya seorang pemimpin sudah paham bagaimana
ideologi yang harus disamakan yaitu Islam. Rakyat yang meyakini aqidah Lailahaillallah-Muhammadurrasulullah tentu tidak menghendaki fenomeda pemurtadan, kemusyrikan,
sistem Bank Riba, Lokalisasi sebagai kantor perzinaan, atau bahkan lembaga
kepemimpinan sebagai saran koruptor. Rakyat sadar orang berilmu itu baik, orang
bodoh itu buruk. Tetapi apa mau diperbuat jika seorang pemimpin “memaksa”
mereka untuk tetap dalam keadaan seperti itu. Rakyat mengetahui orang kaya itu
dipandang, orang miskin gampang dilecehkan. Tetapi tidak ada upaya untuk
mengubah nasib diera kaptalis seperti saat ini. Rakyat yang sangat menjunjung
tinggi nilai akhlaqul karimah tentu tidak menghendaki kepala negara yang
membiarkan pornografi, pornoaksi, dan
proses dekandensi moral terus merajalela.
Rakyat yang
menjadikan Al Quran sebagai “imam” mereka tentu tidak menghendaki kepala negara
yang berkiblat kepada Barat maupun Timur.
Dan rakyat yang seperti itu adalah rakyat muslim yang mayoritas.
Rasulullah saw. memberikan
penjelasan tentang pemimpin pengganti beliau (khalifah) dalam mengurus
kaum muslimin bakal diminta pertanggungjawaban di akhirat. Beliau saw.
bersabda:
كَانَتْ
بَنُوْإِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ اْلأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ
خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ وَسَتَكُوْنُ خُلَفَاءُ
فَتَكْثُرُ. قَالُوْا : فَمَا
تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوْا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ. وَأَعْطُوْهُمْ حَقَّهُمْ، فَإِنَّ اللهَ
سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ
“Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin
dan dipelihara urusannya oleh para Nabi.
Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh Nabi yang lain.
Sesungguhnya tidak akan ada Nabi setelahku, (tetapi) nanti akan ada banyak
khalifah. Para sahabat bertanya :Apa
yang engkau perintahkan kepada kami?
Beliau menjawab: Penuhilah baiat yang pertama, lalu yang pertama. Berikanlah kepada mereka hak mereka, karena
Allah nanti akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa saja yang telah
diserahkan kepada mereka mengurusnya”.
(HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah).
Dalam hadist
tersebut pemimpin yang dimaksud mempunyai dimensi dunia dan akhirat. Sedangkan
pemimpin saat ini yang sekuler merasa bebas setelah 5 tahun memimpin karena
“merasa” tidak dipertanggungjawabkan disisi Allah SWT melainkan kepada rakyat.
Bukan
sekadar memimpin rakyat akan tetapi seorang pemimpin harus mampu memberikan
nasihat kepada umat. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah saw.
bersabda:
ماَ مِنْ عَبْدٍ
اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً لَمْ يُحِطْهَا بِنَصِيْحَةٍ إِلاَّ لمَ ْيَجِدْ
رَائِحَةَ الْجَنَّةَ
“Tidaklah seseorang
yang diserahi Allah memimpin urusan rakyat, lalu dia tidak menasihati
rakyatnya, melainkan dia tidak mencium harumnya surga”. (HR. Al Bukhari).
Di
masa Rasulullah saw. dan para khalifah setelah beliau, para pemimpinlah
(khalifah/kepala negara, wali/gubernur, amil/walikota/bupati, panglima tentara)
yang setiap Jum’at berkhutbah menyampaikan nasihat taqwa kepada kaum muslimin. Dari sini juga dimengerti bahwa para pemimpin
bertugas menjaga agar rakyat yang dipimpinnya tetap dalam jalur taqwa, yakni
tetap berjalan di dalam kehidupan mereka di jalan hidup Islam, di jalan syariah
Allah SWT, dalam rangka mencari ridlo-Nya.
Untuk saat ini jangankan untuk berkhutbah, memberikan
nasihat. Dalam urusan shalat saja pemimpin atau Presiden sebagai makmum. Maka
dari itu para pembaca yang beriman jika kita ingin memetik buah jeruk tentu
kita harus menanam pohon jeruk yang akarnyapun akar pohon jeruk. Dan bagaimana
mungkin islam ditegakkan dalam sistem yang sama sekali tidak islami. Tentu
pemimpin yang diidamkan adalah pemimpin mampu mengantarkan kita dalam ridho
Allah SWT dengan syariah dalam bingkai daulah khilafah.
Ya, calon
penguasa dan kepala negara yang seperti itulah yang kita butuhkkan hari ini,
demi keselamatan kita hari ini, maupun masa mendatang. Wallahua’lam!
Oleh: Ali
Afan Manajer jualanggrek.com
Mahasiswa
S1 Pendidikan Tenik Elektro
Universitas
Negeri Malang
