"“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)."


Minggu, 23 Maret 2014

Pemimpin Amanah Bawa Berkah (Part 2)


www.inspirasidakwah.com - Seorang pemimpin tentu akan memimpin berdasarkan ideologi, pemahaman dan pengetahuan yang dimilikinya. Hal demikian akan rentan sekali terhadap rakyat yang memiliki pemikiran dan keinginan yang berbeda maka akan muncul yang dinamakan konflik. Maka yang terjadi ada dua kemungkinan pemberontakan dari rakyat atau pemaksaan sistem dari penguasa. Maka ideologi rakyat dan penguasa harus disamakan agar negara mendapatkan dukungan dan kontrol dari rakyat secara penuh, negarapun menjadi kuat.
            Dengan mayoritas penduduk muslim tentunya seorang pemimpin sudah paham bagaimana ideologi yang harus disamakan yaitu Islam. Rakyat yang meyakini aqidah Lailahaillallah-Muhammadurrasulullah tentu tidak menghendaki fenomeda pemurtadan, kemusyrikan, sistem Bank Riba, Lokalisasi sebagai kantor perzinaan, atau bahkan lembaga kepemimpinan sebagai saran koruptor. Rakyat sadar orang berilmu itu baik, orang bodoh itu buruk. Tetapi apa mau diperbuat jika seorang pemimpin “memaksa” mereka untuk tetap dalam keadaan seperti itu. Rakyat mengetahui orang kaya itu dipandang, orang miskin gampang dilecehkan. Tetapi tidak ada upaya untuk mengubah nasib diera kaptalis seperti saat ini. Rakyat yang sangat menjunjung tinggi nilai akhlaqul karimah tentu tidak menghendaki kepala negara yang membiarkan pornografi,  pornoaksi, dan proses dekandensi moral terus merajalela.
Rakyat yang menjadikan Al Quran sebagai “imam” mereka tentu tidak menghendaki kepala negara yang berkiblat kepada Barat maupun Timur.  Dan rakyat yang seperti itu adalah rakyat muslim yang mayoritas.
Rasulullah saw. memberikan penjelasan tentang pemimpin pengganti beliau (khalifah) dalam mengurus kaum muslimin bakal diminta pertanggungjawaban di akhirat. Beliau saw. bersabda:
كَانَتْ بَنُوْإِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ اْلأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ وَسَتَكُوْنُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ.  قَالُوْا : فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوْا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ.  وَأَعْطُوْهُمْ حَقَّهُمْ، فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ
      “Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para Nabi.  Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan ada Nabi setelahku, (tetapi) nanti akan ada banyak khalifah.  Para sahabat bertanya :Apa yang engkau perintahkan kepada kami?  Beliau menjawab: Penuhilah baiat yang pertama, lalu yang pertama.  Berikanlah kepada mereka hak mereka, karena Allah nanti akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa saja yang telah diserahkan kepada mereka mengurusnya”.  (HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah).
Dalam hadist tersebut pemimpin yang dimaksud mempunyai dimensi dunia dan akhirat. Sedangkan pemimpin saat ini yang sekuler merasa bebas setelah 5 tahun memimpin karena “merasa” tidak dipertanggungjawabkan disisi Allah SWT melainkan kepada rakyat.
Bukan sekadar memimpin rakyat akan tetapi seorang pemimpin harus mampu memberikan nasihat kepada umat. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:  
ماَ مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً لَمْ يُحِطْهَا بِنَصِيْحَةٍ إِلاَّ لمَ ْيَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seseorang yang diserahi Allah memimpin urusan rakyat, lalu dia tidak menasihati rakyatnya, melainkan dia tidak mencium harumnya surga”. (HR. Al Bukhari).
            Di masa Rasulullah saw. dan para khalifah setelah beliau, para pemimpinlah (khalifah/kepala negara, wali/gubernur, amil/walikota/bupati, panglima tentara) yang setiap Jum’at berkhutbah menyampaikan nasihat taqwa kepada kaum muslimin.  Dari sini juga dimengerti bahwa para pemimpin bertugas menjaga agar rakyat yang dipimpinnya tetap dalam jalur taqwa, yakni tetap berjalan di dalam kehidupan mereka di jalan hidup Islam, di jalan syariah Allah SWT, dalam rangka mencari ridlo-Nya.
            Untuk saat ini jangankan untuk berkhutbah, memberikan nasihat. Dalam urusan shalat saja pemimpin atau Presiden sebagai makmum. Maka dari itu para pembaca yang beriman jika kita ingin memetik buah jeruk tentu kita harus menanam pohon jeruk yang akarnyapun akar pohon jeruk. Dan bagaimana mungkin islam ditegakkan dalam sistem yang sama sekali tidak islami. Tentu pemimpin yang diidamkan adalah pemimpin mampu mengantarkan kita dalam ridho Allah SWT dengan syariah dalam bingkai daulah khilafah. 
Ya, calon penguasa dan kepala negara yang seperti itulah yang kita butuhkkan hari ini, demi keselamatan kita hari ini, maupun masa mendatang. Wallahua’lam!    

Oleh: Ali Afan Manajer jualanggrek.com
Mahasiswa S1 Pendidikan Tenik Elektro
Universitas Negeri Malang
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Inspirasi Dakwah All Right Reserved