"“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)."


Sabtu, 12 April 2014

Pendekatan Saintifik

Al Quran dan Sains
     Sekolah merupakan salah satu sistem pendidikan yang merfungsi untuk membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dari pendidikan yang diterima anak bangsa di bangku sekolah, akan mampu mengubah pola pikir dan daya kreativitas untuk menciptakan negara dengan taraf kesejahteraan yang baik dan perekonomian yang meningkat. Sekolah ada merupakan bagian dari rancangan yang dibuat oleh pemeritah di bidang pendidikan dengan landasan operasionalnya adalah kurikulum. Dari kurikulum inilah tujuan dari pendidikan bangsa diharapkan dapat tersusun dengan sistematis untuk mencapai tujuan bangsa dan negara Indonesia.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang tujuan, isi dan bahan pelajaran yang dikembangkan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik serta kebutuhan lapangan kerja. Subandiyah (2001:4-6) mengemukakan ada 4 komponen kurikulum yaitu, komponen tujuan, komponen isi/materi, komponen media (sarana dan prasarana), komponen strategi, dan komponen proses belajar mengajar.
Saat ini kita ketahui bahwa pendidikan di Indonesia sedang mencoba stategi baru yaitu penerapan kurikulum 2013. Kurikulum yang digadang-gadang akan memperbaiki pendidikan di Indonesia. Dari penerapan kurikulum 2013 semua komponen ada perombakan salah satunya adalah pendekatan pembelajaran yang dipakai oleh kurikukum 2013. Ketua Unit Implementasi Kurikulum 2013 (UIK) Kemdikbud, Tjipto Sumadi menjelaskan, dalam kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), ada tiga langkah dalam metode pembelajarannya, yaitu elaborasi, eksplorasi dan konfirmasi. Sedangkan dalam Kurikulum 2013 ada lima langkah, yaitu mengamati, bertanya, menalar, mencoba, dan mengomunikasikan.
Lima langkah yang dimaksud diatas adalah pendekatan saintifik (Scientific Approach). Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar  peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”. Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami  berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber  melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu. Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan prosesproses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi bantuan guru tersebut harus semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya siswa atau semakin tingginya kelas siswa.
Hasil dari penerapan saintifik belum sepenuhnya dapat kita ketahui hasilnya karena penerapan ini baru dilaksanakan. Namun masih basah pada ingatan kita bahwa pendidkan di Indonesia sudah banyak mengalami perubahan kurikulum. Mulai dari kurikulum tahun 1947, kurikulum Rencana Pendidikan Sekolah Dasar tahun 1964, kurikulum Sekolah Dasar tahun 1968, kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) tahun 1973, kurikulum Sekolah Dasar tahun 1975, kurikulum 1984 tahun 1984, kurikulum 1994 tahun 1994, kurikulum Rintisan Kurikulum Berbasis Kopetensi (KBK) tahun 2000, kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, dan terakhir kurikulum 2013 tahun 2013. Pada setiap kurikulum menerapkan stategi pembelajaran yang berbeda.
Namun faktanya pendidikan saat ini masih jauh dari apa yang di inginkan. Salah satu kasus yang di ungkapkan wali kota Surabaya Tri Rismaharini di salah satu stasiun TV Nasional. Sekolah menjadi lahan basah berkembangnya prakti prostitusi. Selain itu permasalahan free sex, narkoba, tawuran dan kenakalan remaja lainya masih menghantui pendidikan saat ini.
Hal inilah yang menjadikan opini masyarakat bahwa pendidikan saat ini masih GAGAL karena masih mencetak generasi yang banyak bermasalah. Semua ini tidak lain karena pendidkan saat masih menerapkan sistem pendidikan yang sekuler-materialistik. Bahkan Ajib Rosidi, Ketua Umum Yayasan Rancage, dalam penutupan Konferensi Internasional Budaya Sunda I, di Bandung, Minggu (26/8/2001) mengakatakan bahwa sistem pendidikan nasional di Indonesia masih mewarisi sistem kolonial, perlu dilakukan perombakan total pada sistem pensisikan nasional agar membentuk watak anak yang mandiri dan kreatif.
Ngomong-ngomong masalah perombakan sistem maka Islam sebagai agama yang agung memiliki konsep pendidikan yang dapat menjadikan seorah menjadi pendidik yang benar-benar memiliki kemampuan. Pendidikan  dalam pandangan I slam  merupakan upaya sadar, terstruktur serta sistematis untuk mensukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi. Pendidikan harus  merupakan bagian yang tak terpisahkan   dari sistem hidup I slam Sebagai bagian integral dari sistem kehidupan Islam,  sistem pendidikan  memperoleh masukan dari supra sistem, yakni keluarga dan masyarakat atau lingkungan, dan memberikan hasil/keluaran  bagi suprasistem tersebut. Sementara sub- subsistem yang membentuk sistem pendidikan antara lain adalah tujuan pendidikan itu sendiri, anak didik (pelajar/ mahasiswa), manajemen, struktur dan jadwal waktu materi, tenaga pendidik/ pengajar dan pelaksana, alat bantu belajar, teknologi, fasilitas, kendali mutu, penelitian dan biaya pendidikan.
I nteraksi  fungsional  antar  subsistem  pendidikan    dikenal  sebagai  proses  pendidikan.  Proses pendidikan ini didefinisikan Pannen dan Malati dalam buku Program Applied Approach (1996) sebagai proses transformasi atau perubahan kemampuan potensial individu peserta didik menjadi kemampuan nyata untuk meningkatkan taraf hidupnya lahir dan batin. Proses pendidikan dapat terjadi dimana saja. Berdasarkan  pengorganisasian  serta struktur  dan  tempat  terjadinya proses tersebut,  dikenaadanya pendidikan sekolah dan pendidikan luasekolah Melalui proses ini diperoleh hasil pendidikan yang mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Selanjutnya, hasil pendidikan ini dikembalikan kepada supra sistem atau lingkungan.   Di dalam lingkungan inilah, hasil pendidikan   efektivitas dan efisiensi proses pendidikan yang berlangsung dapat dibuktikan Dari hasil pendidikan ditambah interaksi dengan lingkungannya, sistem pendidikan memperoleh   umpan balik yang dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses pendidikan.
Dari gambaran di  atas diketahui bahwa  kesinambungan tujuan pendidikan dalam setiap jenjang pendidikan sekolah (formal) sangatlah penting, dan itu akan mempengaruh kemampuan anak didik dalam menjalani proses pendidikan. Untuk menjaga kesinambungan proses pendidikan, penjabaran capaia tujuan pendidikan melalu kurikulum pendidikan, dengan guru/ dosen dan budaya pendidikan yang mendukung menjadi suatu kebutuhan yang tidak terelakkan.  Kurikulum pendidikan  I slam sendiri sangatlah khas,  unique. Tampak pada penetapan     tujuan/ arah pendidikan unsur-unsur  pelaksana pendidikan serta  asas dan struktur kurikulum.
Tujuan pendidikan islam adalah membentuk kepribadian islam (syakhshiayyah Islamiyyah) yang tidak lain merupakan bentuk dari pengokohan aqidah Islam. Selain itu menguasai tsaqofah islam dan menguasai ilmu kehudupan (iptek dan keahlian) menjadi tujuan dari pendidikan Islam. Tujuan pendidikan Islam dapat diraih dengan dengan pendektan pembelajaran yang di dapat dari keluarga, sekolah dan msayarakat. Tiga unsur tersebut dapat mengokohakan kemampuan seoarang siswa untuk meraih tujuan pendidikan Islam.
Sehingga kebutuhan penerapan konsep pendidikan Islam sangat di perlukan untuk menghasilakan generasi yang cemerlang. Generasi yang bukan hanya mesnjadi seorang ilmuan namun juga menjadi seorang ualama’ besar.






Daftar rujukan
http://kemdikbud.go.id/
Kemendikbud.2013. Pendekatan dan Stategi Pembelajaran. Kemendikbud : Jakarta.
Yusanto, M. Islmail. 2001. Menggagas Kembali Konsep Pendidikan Islam.
SEM Institut : Bogor.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Inspirasi Dakwah All Right Reserved